Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 08 Mei 2019

PPT LOMPAT JAUH

Pengembangan model pembelajaran integratif penjasorkes sekolah dasar

Penulis : Ari Purwantyo & Tomoliyus Indonesia adalah negara yang memiliki sejarah cukup panjang dalam rangka untuk meningkatkan pendidikan warganya. Upaya peningkatan pendidikan itu bermacam-macam, misalnya pemerintah menggelontorkan dana hingga 20% dari APBN, mewajibkan belajar 9 tahun, membangun fasilitas pendidikan, memberikan penataran-penataran kepada tenaga pendidik, memperbanyak media pembelajaran, mengembangkan kurikulum, dan lain-lain. Khusus kurikulum, sejak Indonesia merdeka sampai sekarang setidaknya sudah berganti kurikulum sebanyak sembilan kali, secara berurut-urut yaitu: Rencana Pelajaran 1947, Rencana Pelajaran Terurai 1952, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999, Kurikulum 2004, KTSP 2006, dan yang baru adalah Kurikulum 2013 (Loeloek Endah Poerwati, 2013, pp. 4-7) Kurikulum 2013 menggunakan model pembelajaran integratif (terpadu), merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan pada jenjang pendidikan dasar dan menggunakan metode tematik integratif. Untuk melaksanakan pendidikan di sekolah dasar salah satunya diperlukan suatu model pembelajaran. Menurut Ahmadi & Sofan (2014, p. 125) menyatakan bahwa untuk melaksanakan model pembelajaran memerlukan berbagai input, antara lain bahan ajar, metode pembelajaran, evaluasi, sarana prasarana, dan sumber daya lainya (kompetensi guru) serta menciptakan suasana kondusif. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti pada empat guru penjasorkes di SD Karangwuni, SD Caturtunggal 3, SD Deresan, dan SD Caturtunggal 7 Kecamatan Depok Sleman menyatakan bahwa hasil pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di SD Kecamatan Depok Sleman belum menggembirakan, terlihat dari masih banyaknya siswa yang nilainya belum tuntas, anak sering tidak tertib misalnya susah diatur, mengganggu teman dan banyak bicara, beberapa faktor lain yang menyebapkan anak nakal adalah karena pengaruh media yang menyiarkan acara-acara kekerasan, kurangnya peran orang tua dalam mendidiak anak, misalnya anak ditinggal kerja seharian. Selain itu ada anak yang tidak aktif dalam mengikuti pembelajaran, suka menyendiri dikarenakan malu dan tidak percaya diri. Selain itu model pembelajaran yang digunakan masih menggunakan metode demonstrasi, pendekatan pembelajaran berpusat pada guru, kurang pahamnya guru terhadap penilaian berbasis kinerja, sarana prasarana kurang menarik, dan guru kurang paham terhadap model pembelajaran integratif. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu dilakukan suatu pemecahan terhadap permasalahan yang dihadapi guru olahraga. Adapun bentuk pemecahan masalah dengan melakukan penelitian dalam bentuk pengembangan terhadap model pembelajaran yang dapat mendorong pencapaian perkembangan siswa. Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan yaitu model pembelajaran integratif yang menggunakan pendekatan pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Pengembangan model pembelajaran integratif pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan ini diharapkan dapat menghasilkan suatu model pembelajaran yang mendorong siswa selalu senang dan percaya diri dalam melakukan pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Manusia dalam kehidupan ini selalu belajar, berlangsung dari sejak lahir sampai mati, sehingga ada kata mutiara yang berbunyi “belajar sepanjang hayat”. Belajar bisa dilakukan kapan saja, apa saja, dan dimana saja dalam rangka untuk mempertahankan kehidupanya dan meningkatkan kualitas hidup. Manusia yang belajar akan berilmu dan manusia yang berilmu akan memiliki kontribusi atau bisa bermanfaat positif bagi kehidupan dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama, sehingga akan menjadi manusia yang memiliki kedudukan mulia atau terpuji baik secara vertikal maupun horizontal. Melihat betapa pentingnya ilmu, Tuhan selalu menyeru kepada manusia agar selalu minta ilmu kepada-Nya. Tuhan berfirman dalam (QS Thaahaa: 114) “Katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan. https://journal.uny.ac.id/index.php/jpji/article/view/21608/pdf

PENTINGNYA PENJAS BAGI SISWA

Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, mahluk total, daripada hanya menganggapnya sebagai seseorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.

Pendidikan Jasmani merupakan suatu pembelajaran yang penting dan harus diterapkan di sekolah sekolah baik dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas
Pada kenyataannya, pendidikan jasmani adalah suatu bidang kajian yang sungguh luas. Titik perhatiannya adalah peningkatan gerak manusia.Pendidikan Jasmani memiliki ranah yang cukup luas dibanding pembelajaran pembelajaran lainya pendidikan jasmani mencakup 3 ranah sekaligus yaitu Afektif,Kognitif dan Psikomotor berbeda dengan yang lain yang hanya berfokus pada dua ranah.

Tetapi dalam akhir akhir ini dan untuk kedepannya penjas sering dianggap remeh dan dibelakangkan,padahal peranannya sangat penting untuk membuat siswa bugar jasmani dan rohani,bahkan penjas hanya dianggap sebelah mata di Sekolah sekolah secara umum sehingga dianggap hanya formalitas saja tidak dikelola dengan baik,bahkan rencananya penjas akan dihapus dikelas 12 SMK dengan alasan akan mengikuti UN dan dianggap penjas menganggu fokus siswa,hal tersebut tentu mimpi buruk bagi pendidikan jasmani.Hal seperti itu harusnya dihilangkan dan mengubah mindset bahwa penjas adalah bagian pembelajaran yang penting dan harus dikelola dengan baik
https://journal.uny.ac.id/

Faktor Yang Mempengaruhi Kebugaran Jasmani

Kebugaran jasmani memiliki tingkat yang berbeda pada setiap  individu. Setiap aktivitas fisik dibutuhkan suatu tingkat kebugaran jasmani yang didukung oleh tubuh yang sehat. Menurut Sharkey (2003:30) dalam F Suharjana (2008), untuk mencapai “quality of life” tersebut ada tiga aspek yang harus dipenuhi, yaitu: mengatur makanan, mengatur istirahat, dan mengatur aktivitas (olahraga).
Menurut Suharjana ( 2008 : 14 ) faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kebugaran jasmani seseorang adalah sebagai berikut:

1. Umur

Setiap tingkatan umur mempunyai tataran tingkat kebugaran jasmani yang berbeda dan dapat ditingkatkan pada hampir semua usia. Kebugaran jasmani anak-anak meningkat sampai mencapai maksimal pada usia 25-30 tahun. Selanjutnya akan terjadi penurunan kapasitas fungsional dari

seluruh organ tubuh kira-kira sebesar 0,81 -1%. Namun dengan rajin berolahraga, kecepatan penurunan tersebut dapat diperlambat hingga separuh/setenganya.

2. Jenis Kelamin

Tingkat kebugaran jasmani putra biasanya lebih baik jika dibandingkan dengan tingkat kebugaran jasmani putri. Hal ini disebabkan karena  kegiatan fisik yang dilakukan oleh putra lebih banyak bila dibandingkan dengan putri. Sampai usia pubertas, biasanya kebugaran jasmani anak laki- laki hampir sama dengan anak perempuan. Setelah mencapai / melewati usia pubertas, anak laki-laki biasanya mempunyai tingkat kebugaran jasmani yang jauh lebih besar dibandingkan dengan tingkat kebugaran jasmani anak perempuan.

3. Makanan

Asupan gizi yang seimbang (12% protein, 50% karbohidrat, dan 38% lemak) akan sangat berpengaruh bagi kebugaran jasmani seseorang. Dengan gizi yang seimbang, maka diharapkan akan terpenuhinya kebutuhan gizi tubuh. Selain gizi yang seimbang, makanan juga sangat dipengaruhi oleh kualitas bahan makanan. Yang dimaksud bahan makan yang berkualitas adalah bahan makanan yang sesedikit mungkin mengandung polutan. Cara pengolahan bahan makanan juga sangat mempengaruhi kualitas makanan yang dikonsumsi.

4. Tidur dan Istirahat

Istirahat sangat dibutuhkan bagi tubuh untuk membangun kembali otot – otot setelah latihan sebanyak kebutuhan latihan yang ada di dalam perangsangan pertumbuan otot. Istirahat yang cukup sangatlah perlu bagi pikiran dangan makanan dan udara.

Sharkey, B.J (2003). Fitness And Health. Alih bahasa Kebugaran dan Kesehatan oleh: Eri Desmarini Nasution. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Suharjana. (2008). Pendidikan Kebugaran Jasmani. Pedoman Kuliah. Yogyakarta.
  FIK UNY

ARTIKEL PERILAKU MENYIMPANG

PERILAKU SOSIAL MENYIMPANG ORANG DI JALAN RAYA

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).
Perilaku Sosial merupakan segala tingakah laku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam psikologi dijelaskan bahwa Behavior is the totality of intra and extra organism action and interaction of an organism which is physical and social setting. Artinya perilaku adalah keseluruhan gerak gerik psikis maupun fisik individu dan hubungan timbal balik antara individu dengan lingkungan fisik dan sosialnya.
Jalan raya ialah jalan utama yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan yang lain. Biasanya jalan besar ini mempunyai ciri-ciri berikut: Digunakan untuk kendaraan bermotor. Digunakan oleh masyarakat umum (wikipedia).
Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat. Sedangkan pelaku yang melakukan penyimpangan itu disebut devian (deviant). Adapun perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat disebut konformitas.
Melalui penjelasan diatas, saya menemukan beberapa perilaku sosial yang pernah saya lihat di jalan raya dalam bentuk tabel agar lebih mudah dipahami.

Tabel 1. Perilaku Menyimpang di Jalan Raya
No
Tipe Pelanggaran
1
Parkir sembarangan
2
Akan berpindah lajur atau bergerak ke samping tanpa
memberi isyarat
3
Berbelok/berbalik arah tidak memberi isyarat
4
Pengendara tidak berkonsentrasi (penggunaan HP,
mengobrol)
5
Motor yang mengangkut penumpang lebih dari satu
6
Pengemudi atau penumpang yang duduk di samping pengemudi tidak menggunakan sabuk pengaman

7
Menaikkan dan/atau menurunkan penumpang sembarangan atau kendaraan angkutan tidak sesuai
dengan angkutan
8
Angkutan umum tidak menggunakan lajur yang telah ditentukan atau tidak menggunakan lajur paling kiri

9
Kendaraan tidak bermotor yang dengan sengaja berpegang pada kendaraan bermotor untuk ditarik, menarik benda-benda yang dapat membahayakan
10
Tidak mengenakan helm
11
Menerobos lampu merah
12
Pengendara memacu kendaraan secara ugal ugalan tanpa memperhatikan keselamatan orang lain
13
Di tempat persimpangan yang ramai tanpa lampu merah pengendara tidak ada yang mau mengalah sehingga timbul kemacetan
14
Di saat lampu merah baru saja berganti hijau pengendara dibelakang mengklakson dengan terburu buru sehingga pengendara terdepan mengalami kepanikan
15
Pengendara bergurau terlalu berlebihan di kendaraan sehingga tidak fokus ke jalan

Tabel diatas merupakan hal yang paling sering ditemui dijalan raya sepanjang saya berkendara dan mengamati perilaku pengguna jalan raya.

MACAM MACAM GAYA MENGAJAR

GAYA MENNGAJAR
Rancangan dasar dari Spektrum adalah bahwa mengajar dikuasai oleh proses tunggal terpadu: pembuatan keputusan. Setiap tindakan dari kegiatan mengajar yang direncanakan adalah konsekuensi dari keputusan sebelumnya. Pembuatan keputusan merupakan perilaku utama yang menguasai semua perilaku yang mengikuti: bagaimana mengatur peserta didik; bagaimana mengatur pelajaran; bagaimana mengelola waktu, tempat, dan peralatan; bagaimana berinteraksi dengan peserta didik; bagaimana memilih kata dalam berbicara; bagaimana membangun suasana sosial-afektif dikelas; dan bagaimana menciptakan dan melakukan hubungan kognitif dengan peserta didik. Semua ini merupakan perilaku sekunder, semua berasal dari keputusan yang diketahui sebelumnya, dan semua yang dikuasai oleh keputusan-keputusan yang telah diketahui itu.
Uraian gaya mengajar menurut Moska Mostton menggambarkan bahwa setiap gaya mengajar terdapat tujuan dan hakikat yang mendasarinya. Hakikat setiap gaya mengidentifikasikan bahwa penerapan pada gaya yang diberikan sangatlah fleksibel terhadap rintangan yang harus dilalui oleh setiap gaya. Hakikat tersebut memberikan gambaran yang jelas pada setiap gaya. Pengurangan yang terjadi akan menghilangkan pelaksanaan gaya tersebut yang pada akhirnya mempengaruhi pencapaian tujuan. Selain itu, perilaku waspada, yaitu perilaku yang wajar pada setiap struktur gaya akan menjamin pencapaian tujuan kegiatan belajar mengajar. Ketika guru menjadi ahli menggunakan setiap gaya tersebut, dia akan lebih fleksibel dan mampu mengubah gaya tersebut, sehingga mencapai lebih banyak tujuan dan mendapatkan lebih banyak siswa yang berhasil.
Ø Gaya A: Komando (Command).
Tujuan dari gaya ini adalah untuk mempelajari cara mengerjakan tugas dengan benar dan dalam waktu yang singkat, mengikuti semua keputusan yang dibuat oleh guru. Dalam model ini semua aktivitas pembelajaran, keterlaksanaannya hanya dan sangat tergantung pada guru. Dapat dikatakan peserta didik ’akan bergerak’ hanya bila gurunya memerintahkannya untuk bergerak. Situasi demikian menyebabkan peserta didik pasif dan tidak diperkenankan berinisiatif.  Akibatnya peserta didik tidak mampu mengembangkan kreativitas, khususnya kreativitas dalam bergerak. Hakikat: respon langsung terhadap stimulus. Penampilan harus akurat dan cepat. Model sebelumnya direplikasi.
Ø Gaya B: Latihan (Practice).
Gaya ini memberikan siswa untuk berlatih secara individu dan mandiri, serta menyediakan guru waktu untuk memberikan umpan balik (feedback) kepada siswa secara individu dan pribadi. Peserta didik mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dalam model tugas, guru mendelegasikan sebagian kewenangannya pada peserta didik.  Guru memberikan tugas belajar gerak, idealnya secara tertulis berupa kartu tugas, peserta didik diberi kesempatan dan kewenangan untuk menentukan sendiri kecepatan dan kemajuan belajarnya.

Ø Gaya C Timbal Balik (Resiprocal)
Pada gaya ini, siswa bekerja dengan temannya dan memberikan umpan balik kepada temannya itu, berdasarkan criteria yang ditentukan oleh guru. Hakikat: siswa bekerja sama dengan teman; menerima umpat balik langsung; mengikuti kriteria yang dirancang guru; dan mengembangkan umpan balik dan keterampilan bersosialisasi.
Ø Gaya D: Evaluasi Diri (Shelfcheck).
Tujuan dari gaya ini adalah untuk memahami cara mengerjakan tugas dan memeriksa atau mengevaluasi pekerjaan sendiri. peserta didik mengukur sendiri kinerjanya berdasar kriteria gerak yang diberikan. Hakikat: Siswa mengerjakan tugas secara individu dan mandiri, memberikan umpan balik untuk dirinya sendiri dengan menggunakan kriteria yang dikembangkan oleh guru.
Ø Gaya E: Inklusi (Inclusion).
Tujuan dari gaya ini adalah untuk memahami cara memilih tugas atau kegiatan yang bisa ditampilkan dan memberikan tantangan untuk mengevaluaisi pekerjaan sendiri. Dalam hal ini penentuan tingkat kemampuan ditentukan sendiri oleh peserta didik yang bersangkutan.  Mengingat beragamnya tingkat kemampuan peserta didik dan sebagai konsekuensi dari pemberian kebebasan bagi peserta didik untuk menentukan sendiri di tahap kesulitan mana dia akan belajar, maka pelaksanaan model ini memerlukan kelengkapan dan kecukupan sarana dan prasarana.  Hakikat: Tugas yang sama dirancang menggunakan level kesulitan yang berbeda. Siswa menentukan level terendah tugas mereka dan berlanjut pada level berikutnya.
Ø Gaya F: Penemuan Terpandu (Guided Discovery).
Tujuan dari gaya ini adalah untuk menemukan konsep dengan menjawab serangkaian pertanyaan yang diajukan oleh guru. Hakikat: dengan menanyakan serangkaian pertanyaan dengan spesifik, secara sistematik akan menuntun siswa untuk menemukan target yang ditetapkan dan belum diketahui sebelumnya oleh siswa.
Ø Gaya G: Penemuan Konvergen.
Pada gaya ini, siswa mencari solusi dari masalah dan belajar untuk mengklarifikasi isu dan menghasilkan kesimpulan dengan menggunakan prosedur yang logis, beralasan, dan berpikir kritis. Hakikat: guru mengajukan pertanyaan. Struktur instrinsik dari tugas atau pertanyaan membutuhkan satu jawaban tepat. Siswa terlibat dalam kegiatan berfikir (atau kegiatan kognitif lainnya) dan berusaha mencari satu jawaban atau solusi yang tepat.
Ø Gaya H: Penemuan Mandiri/Produksi (Divergen).
Tujuan gaya ini adalah untuk melibatkan siswa untuk memproduksi atau menghasilkan respon ganda terhadap satu pertanyaan. Hakikat: siswa terlibat dalam memproduksi respon divergen terhadap atu pertanyaan. Struktur instrinsik tugas tau pertanyaan memberikan peluang respon ganda. Respon ganda tersebut dinilai dengan prosedur Mungkin-Terlihat-Menarik (Possible-Feasible-Desirable procedure), atau dengan aturan verifikasi dari disiplin yang diberikan.
Ø Gaya I: Program Rancangan Individu Siswa (Individual Programme).
Tujuan gaya ini adalah untuk merancang, mengembangkan, dan menampilkan serangkaian tugas yang disusun ke dalam program pribadi dengan berkonsultasi dengan guru. Hakikat: Siswa merancang, mengembangkan, dan menampilkan serangkaian tugas yang disusun ke dalam program pribadi. Siswa memilih topik, mengidentifikasi pertanyaan, mengumpulkan data, mencari jawaban, dan menyusun informasi. Siswa memilih area tema umum.
Ø Gaya J: Inisiasi Siswa.
Tujuan gaya ini adalah agar siswa mampu menginisiasi atau memprakarsai pengalaman belajarnya, merancangnya, menampilkannya, danmengevaluasinya, bersama-sama dengan guru berdasarkan kriteria yang telah disepakati sebelumnya. Hakikat: Siswa memprakarsai gaya yang ia lakukan baik satu kegiatan maupun serangkaian kegiatan. Siswa mempunyai pilihhan untuk memilih gaya manapun di dalam Spektrum. Siswa harus mengenal deretan gaya yang terdapat dalam Spektrum.
Ø Gaya K: Melatih Diri (Shelf Teaching).  
Gaya ini memberikan siswa kesempatan untuk membuat keputusan maksimal tentang pengalaman belajarnya tanpa adanya campur tangan langsung guru. Gaya ini sangat jarang digunakan di sekolah. Gaya ini sangat cocok dikembangkan sebagai hobi atau kegiatan hiburan. Hakikat: siswa memprakarsai pengalaman belajarnya sendiri, merancangnya, menampilkannya, dan mengevaluasinya. Siswa memutuskan seberapa besar ikut campur gurunya.
Pustaka:
Jonathan Doherty, 2008, Teaching Styles in Physical Education and Mosston Spectrum.
https://onopirododo.wordpress.com/2012/12/14/10-gaya-mengajar-menurut-moska-mosston/

MODIFIKASI CABOR BOLA VOLI

Modifikasi Olahraga Cabang Bola Volli
Ukuran lapangan Bola Voli  yang sebenarnya berukuran panjang 18 meter dan lebar 9 meter, yang ditandai dengan garis pinggir dan garis belakang.Garis pinggir dan garis belakang merupakan pembatas bidang permainan. dan berikut ini adalah Ukuran lapangan Bola Voli yang bisa anda semua jadikan panduan.
Garis-garis penting lainnya adalah : Garis tengah yang membagi lapangan menjadi 2 bagian yang sama, terkadang disebut sebagai daerah tim.
Tentunya dengan ukuran yang sangat lebar maka sangat dipungkiri bahwa siswa tidak mampu melakukan permainan dengan baik karena selain fisik yang dimiliki siswa factor kebosanan juga sangat besar karena tidak sesuai dengan ukuranya sdan juga disekolah sekolah kadang ada lapangan yang sangat sempit sehingga tidak memungkinkan jika memakai ukuran standar sehingga harus dimodifikasi.    
1.      Bola ( Bisa diganti dengan plastic dan karet )
Bola tersebut memiliki keliling lingkaran 65 hingga 67 cm, dengan berat 260 hingga 280 gram. Tekanan dalam dari bola tersebut hendaknya sekitar 0.30 hingga 0.325 kg/cm2 (4.26-4.61 psi, 294.3-318.82 mbar atau hPa).
Bola yang merupakan salah satu faktor terpenting dalam bola volli dengan ukuran yang standar tentunya sangat susah untuk dipakai oleh siswa yang brelum menguasai karena berat dan kekuatan siswa tidak seimbang olehnya itu pada gambar diatas terdapat gambar bola yang asli dan yang di modifikasi, nah agar anak dapat melakukan permainan bola volli dengan baik  maka akan menggunakan bola yang telah dimodifikasi yang terbuat dari karet dan plastic sehinggan cocok sebagai bahan untuk modifikasi.

2.     Net (Diganti dengan Rafia dan tiang dari bambu tingginya disesuaikan kemampuan)
Ukuran tinggi net putra 2,44 meter dan untuk net putri 2,24 meter.
Dalam ukuran lapangan yang tertera diatas tentunya sangat menyulitkan untuk siswa yang belum menguasai dalam melakukan permainan bola volli yang efektif dikarenakan tidak sesuai baik itu tinggi tiangnya atau berat bolanya. Nah, Salah satu cabang olahraga yang digemari siswa di sekolah dasar yaitu permainan bola volli mini,Permainan ini disebut permainan bola voli mini karena merupakan modifikasi dari permainan bola voli standar. Ukuran lapangan, ukuran bola, dan juga peraturannya disesuaikan dengan anak. Permainan bola voli mini harus disesuaikan agar anak dapat memainkan dengan asyik dan gembira. Bola voli mini mengembangkan peraturan-peraturan bola voli standar. Agar menarik dan lebih mudah dilakukan anak-anak usia 9 sampai 13 tahun. Teknik permainan bola voli mini sama dengan permainan bola voli standar, yaitu ada servis, passing, smash, dan membendung.
Tujuan permainan bola voli mini bagi anak yaitu: Agar anak-anak mengenal dan menyenangi, Agar anak-anak dapat bermain bolavoli dengan teknik yang baikdan benar, Agar anak menjadi atlet bagi yang potensi (pembibitan), Memberikan dasar fisik, teknik, dan taktik yang kuat untuk berprestasi. Teknik permainan  bola voli mini sama dengan permainan bola voli standar, yaitu ada servis, passing, smash, dan membendung (blocking).
Lapangan bola voli mini berukuran lebih kecil darpada lapangan bola voli standar. Ukuran lapangan bola voli mini memiliki panjang 12 m dan lebar lebar 6 m, bandingkan dengan lapangan bola voli standar yang memiliki ukuran 18m x 9m.Salah satu hal yang membedakan pada lapangan bola voli mini dengan lapangan bola voli standar adalah tidak adanya garis serang pada lapangan bola voli mini. Net pada permainan bola voli mini juga mengalami perubahan ukuran. Tinggi net putra: 210 cm, tinggi net putri: 200 cm, panjang: 7 m, lebar: 90 cm. Bola yang digunakan dalam permainan bola voli mini adalah bola mini nomor 4 dengan garis tengah 22 - 24 cm dan berat 230-250 gram. Jumlah pemain pada permainan bola voli mini 2-4 orang, dengan pemain cadangan sebanyak  2 orang.
Aturan Khusus Permainan Bola Voli Mini
·         Permainan itu diperuntukan bagi anak-anak usia 9 – 15 tahun.
·         Dimainkan oleh laki-laki dan wanita di dalam suatu tim yang terdiri dari dua sampai empat pemain
·         Lapangan berukuran lebar 4,5 sampai 6 meter, panjang 9 sampai 12 meter,
·         Ketinggian net antara 1,9 sampai 2 meter.
·         Bola voli mini (3 vs 3)
·         tidak menggunakn sistem spesialisasi pemain (semua pemain bermain di seluruh posisi)
·         ketiga pemain dalam setiap tim harus ikut bermain.
·         Bermain bola voli di bawah supervisi guru atau pelatih
·         Fasilitas dan peralatan
·         bola voli mini (ukuran 3 atau 4) atau bola voli normal (ukuran 5). Menggunakan bola yang sintetis atau kulit jangan yang karet
·         menggunakan lapangan badminton atau setengah lapangan bola voli normal
·         dapat menggunakan tali untuk net atau net badminton apabila net voli tidak ada .

SEJARAH dan PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

Bahasa Indonesia yang kini kita gunakan sebagai bahasa resmi di negara kita berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu yang kita gunakan tersebut merupakan bahasa Melayu tua yang sampai sekarang masih dapat kita selidiki sebagai peninggalan masa lampau. Penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh para ahli, bahkan menghasilkan penemuan bahwa bahasa Austronesia itu juga mempunyai hubungan kekeluargaan dengan bahasa bahasa yang dipergunakan di daratan Asia tenggara. Bukan baru sekarang bahasa Indonesia atau bahasa Melayu itu digunakan sebagai bahasa penghubung di beberapa negara Asia Tenggara. Sudah sejak dulu kala, bahasa Indonesia atau bahasa Melayu itu dikenal oleh penduduk daerah yang bahasa sehari-harinya bukan bahasa Indonesia atau Melayu. Hal tersebut dibuktikan oleh adanya beberapa prasasti yang ditemukan di daerah-daerah yang bahasa sehari-hari penduduknya bukan bahasa Indonesia atau Melayu. Tentu saja ada juga ditemukan di daerah yang bahasa sehari-hari penduduknya sudah menggunakan bahasa Indonesia atau Melayu. Sejarah perkembangan bahasa ini dapat dibuktikan dengan adanya prasasti Kedukan Bukit (683 M), Talang Tuo (684 M), Kota Kapur (686 M), Karah Barahi (686 M). Ketika bangsa Eropa pertama kali datang ke Indonesia, bahasa Melayu sudah mempunyai kedudukan yang luar biasa di tengah-tengah bahasabahasa daerah di Nusantara ini. Pigafetta yang mengikuti perjalanan Magelhaen mengelilingi dunia, ketika kapalnya berlabuh di Tidore pada tahun 1521 menuliskan kata-kata Melayu. Itu merupakan bukti yang jelas bahwa bahasa Melayu yang berasal dari bagian barat Indonesia pada zaman itu pun sudah menyebar sampai ke bagian Indonesia yang berada jauh di sebelah timur. Demikian juga menurut Jan Huygen van Lischoten, pelaut Belanda yang 60 tahun kemudian berlayar ke Indonesia, mengatakan bahwa bahasa Melayu bukan saja sangat harum namanya tetapi juga dianggap bahasa yang terhormat di antara bahasa-bahasa negeri timur. Hal tersebut dapat dibandingkan dengan orang yang tidak dapat atau tidak tahu bahasa melayu.


http://repository.ut.ac.id/4059/1/MKDU4110-M1.pdf  (Dra. B. Esti Pramuki, M.Pd.)
https://repository.unja.ac.id/633/1/BUKU%20MODUL%20BAHASA%20INDONESIA%20UNTUK%20PERGURUAN%20TINGGI.pdf  (Dr. Drs. H. Eko Kuntarto, M.Pd, M.Comp.Eng;Keterampilan Berbahasa Indonesia)

Senin, 06 Mei 2019

ARTIKEL PERILAKU REMAJA

PERUBAHAN PERILAKU REMAJA Inti utama dari pendekatan Perubahan Perilaku adalah bahwa pendekatan ini mengakui bahwa pemberian informasi ke masyarakat tidaklah cukup untuk mengubah perilaku, misalnya melalui belajar. Orang harus mempunyai pengetahuan sebagai prasyarat, tetapi harus mempunyai sikap positif terhadap perilaku yang baik untuk kesehatan (pantang seks, menunda hubungan seksual atau melakukan seks aman), dan bila menghadapi pengaruh sosial negatif, haruslah wholesale jerseys from china memiliki keterampilan asertif untuk tetap pada pendirian sendiri dan akhirnya harus memiliki keterampilan untuk menjalankan perilakunya (misalnya keterampilan mengatakan tidak, atau membeli, membawa, negosiasi dan menggunakan kondom) dalam praktiknya.  Hanya dengan cara itulah orang dapat diharapkan berperilaku sehat, misalnya tergantung dari keputusan pribadi untuk pantang seks atau menunda hubungan seks atau menggunakan kondom ataupun melakukan hubungan seksual tanpa paksaan setelah aktif seksual. Pendekatan Perubahan Perilaku dimulai dengan analisis situasi untuk mendefinisikan masalah kesehatan seksual dan reproduksi (misalnya kehamilan remaja, HIV, pelecehan seksual dan prevalensi dari masalah itu dari setiap kelompok sasaran misalnya anak perempuan, anak laki-laki, remaja pedesaan, dsb) serta penyebab dan pencegah dari setiap masalah kesehatan seksual dan reproduksi untuk setiap kelompok sasaran ditentukan per kelompok sasaran (misalnya pantang seks, menunda hubungan seksual, hubungan seksual yang aman dan tanpa paksaan). Faktor lingkungan yang menghalangi perilaku sehat juga harus diperhitungkan misalnya kurangnya akses terhadap kondom, kontrasepsi, pelayanan kesehatan seksual, norma sosial di masyarakat yang tidak mengakui seksualitas kaum muda; tidak adanya kebijakan yang mendukung perilaku sehat dan mencegah dari masalah kesehatan serta pelecehan seksual dan masalah lingkungan lainnya seperti seorang remaja perempuan yang berjalan sendirian dari sekolah di pedalaman yang gelap gulita dsb. Perilaku dan faktor penentunya merupakan tujuan utama dan khusus dari pendidikan seksualitas, di mana faktor lingkungan merupakan tujuan utama dan khusus dari intervensi yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung. Faktor penentu dari setiap perilaku itu (misalnya A, B, C dan D) adalah pengetahuan sebagai prasyarat dan sikap, pengaruh sosial dan keterampilan terkait ke setiap perilaku; percaya diri merupakan keterampilan yang sangat penting, artinya harus percaya dengan keterampilan sendiri, sehingga keterampilan itu dapat diasah dengan baik dan mengaplikasikannya haruslah terinternalisasi sebagai hal nyata yang harus dilakukan. Faktor penentu ini mewakili tujuan khusus dari pendidikan seksualitas, di mana remajadidukung untuk memiliki: 1.Pengetahuan yang lengkap; 2.Sikap yang tepat; 3.Kesadaran dari pengaruh sosial yang mendukung dan mampu asertif dalam menghadapi pengaruh sosial negatif (misalnya tekanan teman sebaya, norma sosial negatif); 4.Keterampilan untuk mengaplikasikan perilaku sehat dalam keseharian (misalnya keterampilan untuk menolak dan negosiasi serta membeli, membawa dan menggunakan kondom). Pendidikan seksualitas dapat membantu remajaagar mempunyai keinginan sendiri untuk berperilaku sehat.  Pada titik ini, hentikan dampak dari pendidikan seksualitas, yang harus dievaluasi untuk merealisasikan tujuan khusus ini. Keinginan ini dapat dilakukan dalam praktik jika tidak ada hambatan seperti akses terhadap kondom dan jika keterampilan digunakan dengan tepat pada waktu yang tepat pula. Dengan pendidikan seksualitas, perubahan perilaku dapat diharapkan di mana aplikasi dari perilaku itu akan terjadi jauh sesudah pendidikan seksualitas. Jika perilaku sebagai tujuan utama dari pendidikan seksualitas dan faktor penentunya sebagai tujuan khusus sudah jelas maka pelajaran ini dapat dibagi dengan stakeholder lain, remajadan guru untuk mendapatkan masukan mereka sejak awal pengembangan intervensi ini. Kelompok kerja yang terdiri dari guru dan siswa dapat memberikan masukan penting dalam memilih metode pembelajaran paling tepat untuk mewujudkan tujuan khusus ini dan mengembangkan semua instruksi dan isinya, memilih bahasa yang akan digunakan, kata-kata, contoh, desain dsb.  Dalam hal ini, intervensi akan sangat menarik dan meyakinkan untuk siswa dan mudah digunakan untuk guru.  Versi kasar dari intervensi dapat diujicobakan oleh guru yang terlatih di beberapa kelas uji coba dan diadaptasi dengan komitmen dari Badan Pengurus pemilik sekolah menjadi versi yang lebih dapat diimplementasikan ke skala yang lebih luas. Selama pengembangan intervensi dan/atau selama uji coba dan pelaksanaan, intervensi dapat dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung. Hal itu menunjukkan bahwa faktor penentu perilaku merupakan tujuan khusus dari pendidikan seksualitas dan juga menekankan bahwa hak seksual dan reproduksi, termasuk kesetaraan gender, telah terintegrasi secara sistematis ke semua pelajaran. Akhirnya, terlihatlah bahwa metode pembelajaran dari setiap tujuan khusus harus dipilih, misalnya keterampilan atau sikap tidak dapat diajarkan tapi membutuhkan metode bermain peran, dan diskusi. Melihat dari sudut pandang Perubahan Perilaku, pendidikan seksualitas lebih dari hanya memberikan informasi mengenai hal-hal biologis. Definisi dari Siecus memenuhi pendekatan ini yakni; “sikap dan keterampilan merupakan bagian dari proses pengambilan keputusan, di mana seksualitas dilihat dari konteks kualitas hidup yang lebih luas.” Sumber : https://pkbi-diy.info/pendekatan-berdasarkan-perubahan-perilaku-remaja/

Permainan Tanpa Alat


TANGKAP SESUAI JALUR

CARA :
1. Orang yang berjaga yaitu 1 orang pada setiap kelompok.

2. Semua pemain harus mengikuti setiap bagian-bagian yang di lewati, seperti :
Ø Jika pemain dan orang jaga berada di garis lari, maka semua pemain harus berlari.
Ø Jika pemain dan orang jaga berada di garis jalan jongkok, maka semua pemain harus jalan jongkok.
Ø Jika pemain dan orang jaga berada di garis jalan lari menyamping menghadap tengah (garis sebelah kanan), maka semua pemain harus lari menyamping ke kiri (tengah).
Ø Jika pemain dan orang jaga berada di garis jalan lari menyamping menghadap tengah (garis sebelah kiri), maka semua pemain harus lari menyamping kanan (tengah).
Ø Jika pemain dan orang jaga berada di garis sprint, maka semua pemain harus sprint.
Ø Jika pemain dan orang jaga berada di garis jalan, maka semua pemain harus berjalan.


3. Jika penjaga bisa menyentuh badan dari pemain lain maka pemain yang tersentuh oleh penjaga di haruskan untuk berganti posisi menjadi orang jaga.

4. Semua pemain boleh menyebar dan mengikuti setiap bagian atau garis sesuai yang di inginkan.

5. Bisa di beri batas waktu.



TUJUAN :
· Melatih kecepatan, serta daya tahan tubuh.
· Menaikkan suhu tubuh.
· Megoptimalkan gerak karena tidak ada pemain yang diam.

SPRINT


BERLARI MENYAMPING KANAN
MENGHADAP TENGAH



JALAN JONGKOK


BERLARI MENYAMPING KIRI
MENGHADAP TENGAH



SPRINT

www.uny.ac.id